Cardiac Arrest _ Risma Melani (Teks Novel Sejarah)




                             •••Take your tea and enjoy it•••





“Cantik ... seperti Ibunya”

 Terhembuslah nafas lega memenuhi ruangan bernuansa putih itu. Pada hari Minggu, pukul 22.03, tanggal 9 Januari 2005, suara tangisan bayi menjadi pertanda telah lahirnya manusia baru berjenis kelamin perempuan yang sekarang sedang berada pada gendongan sang Ibu. Senyum haru sang Ayah terlukis, merasa bersyukur melihat istrinya telah berhasil melewati fase seperti ini untuk yang kedua kali.


                     ••• Sips your tea and wait a minute •••


  Derap langkah kaki seorang anak laki-laki bergema di lorong rumah sakit siang ini, dengan wanita paruh baya mengikuti di belakangnya. Tangan kecilnya berusaha mendorong salah satu dari puluhan pintu ruang rawat inap, setelah pintu terbuka ia menemukan sang Ibu yang tengah disuapi oleh Ayahnya.

  “Prata, nenek yang membangunkanmu ya?” Tanya Ayah

  “Katanya kemarin malam adik bayi lahir? Kenapa tidak membangunkan Prata?” Tanya anak kecil tersebut

  Ayah tertawa mendengar itu, “Maafkan Ayah, yang penting sekarang kau sudah resmi menjadi seorang kakak, bukankah kau senang?”

  “Tentu saja aku senang! Aku akan punya teman bermain di rumah” Jawab Prata antusias

  “Prata, adikmu perempuan ... pergilah menyapanya” Ujar Ibu

  “Dimana adik ku?”. Prata melihat sekeliling ruang putih itu, matanya menemukan sebuah kotak besar yang cukup tinggi dengan bahan plastik keras serta memancarkan cahaya lampu kuning. Ia berjalan mendekati kotak tersebut.

  “Bisa kau melihat adikmu?” Tanya Nenek

  Prata masih sibuk berjinjit, mencoba melihat isi dari ruang NICU di hadapannya. “Prata belum cukup tinggi nek, tidak kelihatan”

  Tiba-tiba tangisan bayi memenuhi ruangan, Nenek mendekati ruang NICU dan menggendong bayi itu keluar, menghampiri sang Ibu agar dapat menyusui anak keduanya. Prata menggiring langkahnya mengikuti kemana bayi itu dibawa.

  “Cantik bukan? Dia terbangun saat Prata mendekatinya, itu tandanya dia senang kau datang” ujar Ibu

  “Benarkah?” senyum Prata merekah setelah bisa melihat adiknya untuk pertama kali.

   Nenek mendekati Ibu dan Ayah. “Sudah memutuskan nama untuknya?”.

  “Sudah” Jawab Ayah, “Melani Melia Putri”.

  “Artinya pohon kehidupan” Tambah Ibu, “Kita akan memanggilnya Melia”.

    Ayah dan Ibu sama-sama memanggil ia dan adiknya hanya dengan nama tengah mereka. Prata tersenyum senang, ketakutannya untuk diperlakukan berbeda ternyata tidak terjadi, Ibu dan Ayah tidak membeda-bedakan Prata dengan adiknya. Prata dengan nama lengkap Adi Pratama Putra yang telah lahir lebih dulu 5 tahun lalu di rumah sakit yang sama sebagai anak pertama di keluarga itu.


                     ••• Sips your tea and wait a minute •••


    7 bulan telah berlalu sejak Melia lahir. Saat ini ia semakin pandai menggunakan tangannya, kehadirannya menambah suasana ramai di keluarga kecil itu. Terutama Prata yang selalu antusias berinteraksi dengan Melia.

  “Ibu, kapan ayah pulang?” Tanya Prata di sela sela kegiatannya

  “Mungkin sekitar satu minggu lagi” Jawab Ibu

  “Masih lama ya” keluh Prata

  “Tapi ayah bilang janji akan membawa mainan untuk Prata dan Melia saat pulang nanti” hibur Ibu

  Prata tertawa senang “Asik! Melia juga pasti menunggu ayah datang kan”

  Ibu tersenyum melihat interaksi kedua anaknya yang setiap hari selalu saja membuatnya gemas. Ibu membayangkan, dapat melihat kedua anaknya tumbuh besar bersama sampai tua pasti akan menjadi bagian dari kebahagiaan yang kesekian.


                       ••• Sips your tea and wait a minute •••


  Kala itu, matahari bersembunyi dibalik tebalnya awan hingga mengakibatkan siang yang seharusnya panas terik menjadi sedikit mendung. Suara ramai dari Prata dan Melia tidak terdengar menghiasi rumah itu seperti biasanya.

  “Kapan ayah akan pulang?” tanya Ibu sembari memegang telepon berkabel.

  “Masih sekitar 3 hari lagi, apa kondisi Prata sudah membaik?

  “Belum sama sekali, ruam merah muncul ditubuhnya dan dia sudah muntah dua kali sejak pagi”

  “Obat dari dokter sudah rutin diminum?”

  Ibu menghelas nafas cemas, “Sudah, tapi tetap tidak ada perubahan. Jika terus seperti ini aku akan membawa Prata ke dokter lagi”

  “Baiklah ... maaf aku tidak bisa menemani kalian saat ini, aku akan bicara pada atasanku agar boleh pulang lebih cepat

  Telepon ditutup. Ibu bergegas ke rumah paman untuk meminta bantuan mengantar Ibu dan Prata ke rumah sakit, sebab hanya paman yang sudah memiliki kendaraan beroda empat pada saat itu.

  Kini Ibu kembali ke ruangan bernuansa putih seperti 7 bulan yang lalu, namun kali ini bukan dirinya yang terbaring di ranjang pasien, melainkan panglima kecilnya, Prata.

  Dokter mendiagnosis Prata mengalami demam berdarah, itu sebabnya Prata terkena demam tinggi secara drastis, muncul ruam merah ditubuhnya, dan mengeluh kepalanya yang sakit.


                       ••• Sips your tea and wait a minute •••


        Sudah dua hari Prata menghuni ruang rawat inap dengan segala perawatan medis. Senyum dan tingkah cerianya mulai kembali, hal pertama yang ditanyakannya adalah Melia, ia mencari dimana adik kecilnya itu, sampai Ayah menjelaskan bahwa Melia masih terlalu kecil yang menyebabkan dirinya rentan tertular penyakit jika pergi ke tempat seperti ini

   Setelah keadaan Prata mulai membaik, pihak rumah sakit memperbolehkan ia pulang ke rumah. Dan lagi, saat sampai di rumah yang pertama ia cari adalah Melia, Prata terlihat sangat menyayangi adik perempuannya itu, ia segera mengajak Melia berinteraksi lagi. Hal itu membuat Ibu dan Ayah merasa sedikit tenang karena kedua anaknya terlihat bahagia bisa bertemu kembali walau hanya terpisah selama 3 hari.

   Namun ... seperti tak diberi nafas, Ayah dan Ibu harus kembali ke rumah sakit membawa Prata bersama mereka dan menitipkan Melia ke Nenek. Prata kembali mengalami demam tinggi yang mengharuskan ia masuk ke dalam ruang ICU.

  “Ayah, Ibu ... Prata tidak mau sakit lagi” rengek Prata

  “Maka dari itu, Prata harus sembuh ya ... Prata pasti kuat, Melia menunggumu pulang agar bisa bermain lagi dengan kakaknya” lirih Ibu

  “Sebentar lagi ulang tahunmu, Ayah akan membelikanmu banyak hadiah, kau anak yang kuat Prata” ujar Ayah

  Prata memegangi kepalanya, “Ibu ... rasanya sakit”

  “Ayah akan panggilkan dokternya, agar Prata tidak merasa sakit lagi” ucap Ayah seraya berjalan cepat keluar ruang ICU.

.
.
.
  Hanya butuh beberapa detik untuk terjun dalam arus tangisan dan kepedihan. Kepedihan yang pahit saat mereka mendapati bahwa panglima kecil mereka tak kuat menahan semua rasa sakit yang menghujam tubuhnya. Jantung kecil itu kini telah berhenti, senyum tawanya sudah tak lagi dapat ia keluarkan. Ibu tak henti hentinya memberi pelukan yang bahkan kehangatannya pun kini sudah hilang.

“Bagaimana Ibu akan menceritakan mu pada Melia nanti?”

   Ruang ICU itu dipenuhi dengan mata Ayah dan Ibu yang semakin melebam, seolah-olah air mata yang menetes tidak ada habisnya. Beserta isak tangis yang semakin lama terdengar semakin semu dan sendat. Tubuh keduanya tampak lemah, tetapi tidak pingsan. Jantung serasa memompa arus kesedihan yang deras mengalir alih-alih darah agar tubuhnya tetap bertahan.


                     ••• Sips your tea and wait a minute •••


  “Kak Melia, ayo cepat!” panggil seseorang dari balik kaca mobil yang terparkir

  “Yaa tunggu sebentar” Sahut Melia.

  “Kak Prata ... cerita yang ku bagi hari ini menyenangkan bukan? Aku harap kakak juga senang mendengarnya” monolog Melia sembari menaruh setangkai mawar putih diatas tanah tersirat.

  Begitulah ... waktu tetap berjalan sesuai dengan ketentuannya, Melia kecil kini telah menginjak umur 17 tahun, sebelumnya ia menjadi adik dari seseorang yang memiliki kasih sayang besar yaitu Prata. Kini ia yang menjadi kakak dan menyalurkan kasih sayang besar itu pada Pandu. Abimanyu Pandu Pradipta. Bagaikan Prata yang terlahir kembali dalam wujud Pandu. Maka meskipun jantung telah berhenti rasa sayang keluarga kecil itu akan terus megalir dan berputar tak terputus.






Komentar